Sermon
Bahan KAKR 20 Juni 2021
GBKP Rg. Bambu Raya Klasis Medan Delitua
Tema Umum : Generasi Penerus
Bahan Alkitab :
Kejadian 12:1-3
Kitab Kejadian adalah kitab Perjanjian Lama yang pertama dan
sebagai pendahuluan dari seluruh Alkitab, yang mencatat tentang penciptaan,
asal sejarah, asal mula bangsa Ibrani dan perjanjian Allah dengan Abraham,
nenek moyang mereka. Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya
sendiri, dan menciptakan-Nya mereka laki-laki dan perepuan (bd. Kej. 1:26-27). Kejatuhan manusia dalam dosa merusak
segalanya. Manusia tidak lagi dapat membedakan yang jahat dan yang baik,
dan kecenderungan manusia selalu berbuat yang jahat. Dosa semakin
berkembang, dosa manusia tidak pernah berkurang, mulai dari manusia pertama
hingga saat ini.
Dosa merupakan penyebab terputusnya hubungan antara manusia
dan khalik-Nya. Akibatnya, manusia mengalami kesuraman dan hidup tanpa
masa depan. Semua kejahatan lahir dari keadaan umat manusia yang
berdosa, Walaupun demikian banyak orang tidak mengetahui asal usul dosa
dan akbitnya. Namun dari sisi lain Tuhan tidak membiarkan manusia
ciptaan-Nya terus hidup dalam dosa, maka Dia melakukan aktivitas misi-Nya
dengan cara mencari manusia dengan kasih-Nya (bd. Kej.
3:8-9). Dengan adanya kenyataan ini, maka pemanggilan Abraham dalam teks
Kejadian 12:1-3 adalah sebagai awal penggenapan janji keselamatan manusia yang
sudah jatuh ke dalam dosa (bd. Kej. 3:15), atau
sebagai awal babak baru dalam penyataan Perjanjian Lama mengenai Allah untuk
menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa. Allah bermaksud memilih
seseorang yang mengenal dan melayani-Nya, dan dengan iman yang tulus dapat
mengenal, mengajarkan, dan memelihara jalan-jalan Tuhan dengan baik.
Panggilan Abraham
mutlak atas inisiatif Allah. Itu berarti bahwa Allah yang memanggil Abraham adalah Allah yang dengan sendirinya ada, juga berkuasa atas
alam semesta dan atas semua suku bangsa di dunia. Pemanggilan Abraham bukan hanya berkat bagi keluarga dan keturunannya saja,
melainkan bagi semua suku bangsa, seperti yang ditulis dalam Galatia 3:8,16
bahwa “berkat yang menunjuk pada Injil
Kristus yang ditawarkan kepada semua bangsa.” Itu berarti bahwa janji
berkat kepada Abraham bersifat universal. Generasi Penerus sebagai tema kebaktian KAKR minggu
ini mengajak anak KAKR begitu juga guru KAKR agar mampu menjadi generasi
penerus untuk menjadi berkat bagi semua orang seperti Abraham, yang dimana
dalam :
Ø Ayat 1 dikatakan bagaimana “Syarat Untuk
Diberkati Tuhan”
Abraham
keluar dari antara sanak saudaranya, dan dari rumah bapanya ke tanah yang akan
ditunjukkan Tuhan kepadanya. Ini syarat bagi orang yang percaya kepada
Tuhan Yesus. Hubungan dengan sanak saudara, lebih-lebih dalam keluarga adalah
rata-rata hubungan yang paling
erat. Tetapi semua ini harus ditinggalkan karena Tuhan (bd. Mat 19:29, Mrk
10:29-30, Luk 18:29-30). Bagi
kita ini bukan berarti pergi keluar negeri, atau putus hubungan dengan
keluarga, tetapi taat pada Tuhan Yesus dalam segala perkara yang ditunjukkannya
pada kita lebih daripada kehendak keluarga sendiri. Kita harus menurut
Tuhan lebih dari menurut keluarga dll dalam dunia, ini tidak mudah, tetapi ini
kehendak Tuhan. Bukan berarti kita putus hubungan dengan keluarga, sebab
kita harus tetap cinta seluruh keluarga, tetapi menurut Tuhan lebih dari keluarga
atau siapapun, sebab kita hidup dengan iman, berjalan dengan iman (bd. 2Kor 5:7). Demikian juga dengan orang-orang Kristen sebagai
generasi penerus harus tetap mengutamakan Tuhan dalam segala hal.
Ø Ayat 2dikatakan maka Abraham akan “Menjadi
Berkat”.
Abraham
dijadikan bangsa yang besar, dan namanya akan dijadikan besar, karena Abraham
menjadi berkat bagi orang lain.
Apa
artinya menjadi berkat? Orang yang menyaksikan itu menjadi
untung. Ini untung menurut Allah yaitu untung yang kekal, bukan hanya yang
sementara (bd. Mat
16:26). Berkat-berkat jasmani yang sementara
itu baik saja asal mau dan bisa memakainya tanpa menjadi dosa, ituberkenan pada
Tuhan dan punya nilai yang kekal. Jadi berkat di hadapan Tuhan, itu yang
utama dan mendapat berkat kekal, yg terus mengikuti orang itu dalam Surga untuk
kekal (bd. Wah 14:13). Dengan demikian anak-anak Tuhan sebagai generasi
penerus yang mengutamakan Tuhan dan kehendak-Nya akan menjadi berkat dimanapun
dia berada seperti Abraham.
Ø Ayat 3 dikatakan bahwa kehidupan Abraham akan “Dijamin
Tuhan”.
Tidak
semua mau menurut kehendak Tuhan, lebih-lebih
dosa orang berdosa yang mau hidup menurut daging dan dunia ini, sebab nomer satu bagi mereka asal
untung secara duniawi, sekalipun rugi secara rohani, bagi orang-orang berdosa, tidak apa-apa, karena tidak mengerti
kebenaran Allah. Ini sebaliknya dari prinsip berkat secara
rohani. Sebab itu kalau rugi secara daging atau duniawi, mereka tidak mau
dan justru melawannya. Bahkan beberapa orang membalas dengan jahat, sehingga
menjadi celaka bagi orang-orang
percaya yang menjadi berkat. Tetapi Tuhan yang menjaga dan melindungi
orang yang mau menjadi berkat. Tuhan memberkati orang yang menjadi berkat
bagi Abraham dan kutukan orang yang mengutuki Abraham. Allah menjaga
umat-Nya yang berkenan kepada-Nya, yang melakukan kehendak-Nya yaitu mau
menjadi berkat. Jangan takut menjadi berkat sesuai dengan perintah
Allah, maka semua keluarga-keluarga
di bumi akan diberkati di dalam Abraham. Sebab itu jangan takut menjadi
berkat seperti perintah dan kehendak Allah, meskipun tidak semua orang mau
menyaksikan prinsip Allah.
Jangan
takut reaksi orang lain, sebab Tuhan yang membela dan menjaga kita. Jadi
adalah kehendak Tuhan kalau kita menjadi berkat . Dengan demikian sebagai generasi penerus kita juga
harus menjadi berkat dimanapun kita berada karena kehidupan kita sudah dijamini
oleh Tuhan.
Bacaan Remaja
: Ulangan 32:45-47
Bahan bacaan remaja ini adalah pesan terakhir seseorang yang hendak meninggal dunia yaitu Musa, pesan terakhir seseorang yang hendak meninggal dunia acap
kali sarat makna. Karena itu, pihak yang mendengarnya berusaha memperhatikan
baik-baik dan memenuhi pesan itu. Menjelang akhir hidupnya, Musa menggunakan
kesempatan untuk meninggalkan pesan penting kepada bangsa Israel yang selama
empat puluh tahun dipimpinnya. Pesan itu harus didengarkan, diperhatikan, dan
diingat-ingat oleh seluruh bangsanya. Musa menegaskan agar pesan itu
diperhatikan dengan sungguh-sungguh.
Kepada generasi yang baru itu, Musa mewanti-wanti agar mereka
jangan mengulangi kesalahan yang sama, kesalahan angkatan terdahulu yang harus
dibayar dengan harga yang sangat mahal. Ia mengingatkan bahwa mereka bukanlah
satu bangsa yang kebetulan disayang dan dipilih Tuhan. Sebaliknya, mereka
adalah bangsa yang ditetapkan Tuhan sendiri melalui janji-Nya kepada Abraham,
Ishak, dan Yakub. Allah yang telah menciptakan, memelihara, dan menjaga mereka
dengan perhatian dan kesetiaan sedemikian rupa. Musa memakai istilah
"dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya sendiri" (32:10), suatu pelukisan
yang menunjukkan betapa khusus dan istimewa kasih dan perhatian Allah kepada
mereka.
Di dalam pesan peringatan ini berlaku prinsip dasar yang tak
akan berubah: hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan, itulah satu-satunya
jalan untuk menikmati hubungan yang benar dengan Tuhan. Apakah kita setia
menjalani hidup sesuai dengan prinsip firman-Nya? Mari kita memperhatikannya
baik-baik agar kita tidak terjerat dan jatuh. Akhir kata : “Setiap
anak tuhan adalah sebuah bintang. Kiranya
bintang itu tidak padam, dan makin menyala terang”. Selamat berproses menjadi berkat bagi Generasi
Penerus, Tuhan memberkati.
Sermon Bahan KAKR 27 Juni
2021
GBKP Rg. Bambu Raya Klasis Medan Delitua
Tema Umum : Anak-anak Allah
Bahan Alkitab :
1 Yohanes 3:1-7
Semua orang percaya akan menyandang status sebagai anak-anak
Allah sebab anak-anak Allah adalah jati diri semua orang percaya, maka demikian
pentingnya semua orang percaya harus mengerti tentang apa yang di tuliskan oleh
rasul Yohanes yaitu, maksut dari anak-anak Allah. Sebagaimana orang percaya pada Yesus mendapatkan
status dan posisi
sebagai anak-anak Allah, dan status
ini terjadi semata-mata karena kasih Allah yang besar (ay 1). Apa
akibat status baru ini?
Ø Ayat 1 dikatakan bahwa “dunia tidak mengenal kita”
Jika orang-orang yang percaya kepada Kristus mengalami
penderitaan di dunia, kita tidak perlu heran, karena dunia tidak pernah
menerima Yesus Kristus sebagai Anak Allah sehingga mereka juga menolak kita,
para pengikut Yesus. Namun, penderitaan dan penganiayaan yang orang-orang
Kristen alami justru merupakan bukti nyata bahwa kita adalah benar anak-anak Allah.
Ø Ayat 2 dikatakan menjadi “seperti Kristus”
Setiap orang yang percaya pada Yesus akan menjadi seperti
Yesus. Jadi seperti nyatanya Yesus, demikianlah nyatanya orang percaya menjadi
anak-anak Allah.
Ø Ayat 3 dikatakan “hidup suci”
Menjadi anak-anak Allah merupakan dorongan bagi orang percaya
untuk hidup seperti Yesus. Pergumulan dan persoalan hidup, seharusnya membuat
kita bergantung sepenuhnya kepada Yesus. Hal ini tentu semakin membentuk orang
percaya menjadi serupa dengan Yesus. Inilah hidup suci yaitu hidup yang tidak
pernah lari dari pergumulan dan persoalan hidup.
Ø Ayat 4-7 mengatakan bahwa “tidak ada dosa Di dalam Yesus”
Sehingga setiap orang yang percaya pada Yesus pun demikian.
Lebih tegas dikatakan dalam ayat 9 bahwa
setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa. Ayat 8 dan 10 juga
mengutarakan hal yang senada. Sebaliknya, berbuat dosa menjadi bukti bahwa ia
tidak berada dalam Yesus. Namun, bagi anak-anak Allah kemungkinan untuk berbuat
dosa dan tidak berbuat dosa sangat terbuka. Sampai Yesus datang kedua kali,
maka anak-anak Allah hidup di dalam ketegangan di antara dua kemungkinan
tersebut.
Siapakah
kita? Ayat di atas menjelaskan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Kita disebut
anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah, karena kasihNya yang
sudah mengurbankan AnakNya yang tunggal untuk menebus kita. Karena itu kita
tidak boleh ragu akan identitas kita. Sekalipun dunia tidak mengenal kita sebab
dunia tidak mengenal Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus, kita tidak boleh ragu
atau gentar dalam menjalani hidup kita di dunia. Sebagai anak-anak Allah kita
harus bisa bertumbuh dalam bimbingan Roh Kudus untuk menjadi dewasa dalam iman,
dan bisa selalu hidup dalam kebenaranNya agar tidak terpengaruh atau terseret
oleh arus dunia.
Bacaan
Remaja : Efesus 5:1-13
Bahan bacaan remaja ini mengajarkan
tentang bagaiamana kehidupan seorang
Kristen seharusnya mengalami perubahan secara nyata karena kita tidak lagi
berada dalam kegelapan, melainkan memancarkan terang. Kalau kita ini terang,
seluruh keberadaan kita adalah terang. Status sebagai “Kristen” bukan seperti
sebuah stiker yang ditempel di luar sehingga orang melihat siapa kita melalui
keaktifan kita mengikuti kebaktian atau persekutuan-persekutuan, tetapi mulai
dari dalam diri kita di mana hakekat hidupnya mengalami perubahan dan menjadi
terang.
Sumber terang adalah Tuhan. Maka dari itu kita harus menjadi
terang sebab kita adalah anak-anak terang. Jika Bapa kita adalah Allah yang
terang, maka kita sebagai anak-anakNya juga seharusnya menjadi anak-anak
terang. Jika kita adalah anak-anak terang maka seharusnya kita memancarkan
terang! Sayangnya banyak orang yang berlabel ‘Kristen’ tetapi hidupnya tidak
memancarkan terang bagi sekitarnya, bahkan masih tinggal dalam kegelapan.
Firman Tuhan jelas menyatakan, “Kamu adalah garam dunia. Kamu adalah
terang dunia.” (Matius 5:13a, 14a).
Tuhan menghendaki kita ‘memisahkan diri’ dari orang-orang
yang ada dalam kegelapan. Bukan berarti kita tidak boleh bergaul dan berteman
dengan mereka, tetapi lebih menekankan bahwa kita tidak boleh berkompromi atau
bekerja sama dengan perbuatan-perbuatan gelap mereka, “karena terang
hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Efesus 5:9).
Di tengah dunia yang dipenuhi kenajisan dan hawa nafsu, setiap anak Tuhan
dituntut untuk berani tampil beda dan tetap memancarkan sinar kemulianNya.
Selamat
menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam terang. Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar